Jari Manis

by Unknown , at 20.24 , has 0 komentar
“Ceritakanlah kepadaku tentang kesetiaan dan kasih sayang,” kata Elsa kepadaku.

Maka, aku bercerita tentang jari. Sepotong jari manis.

Pada suatu sore di tepi pantai, matahari merah darah di sebelah langit barat, hampir tenggelam kedalam lautan. Reyshi menatap pacarnya yang akan meninggalkannya pergi ke medan perang di pojok negeri ini. Pemberontak tengah menguasai kota itu, ingin mendirikan Negara baru, tanpa ada campur tangan pihak asing.

Reyshi berkata:

“Berikan jari manismu, dan bawa cincin ini untuk menjaga dirimu!"

Lelaki itu mengambil sebilah belati dari pinggangnya, kemudian memotong jari manisnya setelah menerima cincin dari Reyshi. Darah mengucur seperti air mancur, namun ia tak bersuara atau merintih. Lalu ia merobek ujung baju tentaranya dan membungkus jari itu, setelah itu ia berikan dengan wajah tersenyum. Reyshi, menerima jari itu kemudian memasukannya ke dalam tas, dan mengambil tisu untuk membungkus sisa jari yang terpotong, lelaki itu mengalungkan cincin dan mencium kening Reyshi. Hari gelap, matahari telah jatuh kedalam lautan. Mereka berpisah.

Sesampainya di rumah, Reyshi membersihkan jari itu dan melubangi di bagian kukunya untuk dijadikan kalung sebagai pengobat rindu dan kesepian. Jari itu terus menggantung di lehernya tak pernah dilepaskan. Karena selalu dipakai membuat teman-teman kantornya merasa heran untuk apa menggunakan kalung yang berbandul jari manusia, setiap teman-teman yang dijumpainya selalu bertanya-tanya.

“Memangnya jari itu memiliki hal yang istimewa?”

Reyshi menjawab:

“Ini jari kekasihku sebagai tanda kesetiaan.”

Kadang-kadang, bila Reyshi merindukan kekasihnya, ia ciumi jari itu, berfoto bareng menggunakan handphone, bahkan ia letakan di atas bantal untuk menemani tidur. Ketika tidur, jari itu bergerak dan loncat-loncat seperti pocong. Jari itu melompat dari atas bantal ke tubuh Reyshi, melompat-lompat menjelajahi tubuhnya. Jari itu mungkin tengah meneliti seluruh bagian tubuh Reyshi apakah masih sama seperti ditinggalkan dulu? Kelakuannya membuat geli, dan Reyshi terkadang cengar-cengir ketika tidur. Sebab itulah, ia selalu bermimpi dengan kekasihnya bercinta di tengah peperangan, di tengah kekejaman, di tengah tumpukan mayat.

Setiap pagi, setelah bangun tidur Reyshi mendapati jari itu di kolong tempat tidur. Terkadang jari itu ditemukan oleh ibunya di dalam kamarnya, bahkan pernah juga Reyshi menemukan jari itu di atas toilet pada saat ia ingin mandi.

Reyshi bergumam:

“Dasar laki-laki, jika dilepas pasti kabur-kaburan.”

“Taruh saja dalam toples ketika kamu tidur! Laki-laki terkadang lupa jalan pulang jika terlalu lama berkeliaran di luar.” Teriak ibunya.

Setelah selesai mandi Reyshi bercermin sambil memandangi kalung jari yang melingkar di lehernya. Jari itu bergerak-gerak seolah tahu tengah diperhatikan, kemudian ia memeganginya dan dielus-elus dengan rasa kasih dan sayang. Dan ia berangkat kerja, dengan semangat baru, mimpi baru dan tentu harapan baru. Jari itu mengubah kehidupannya dari detik demi detik hingga tahun demi tahun. Reyshi semakin tumbuh menjadi wanita yang matang dan berkepribadian, sekaligus memiliki rumah dan mobil pribadi. Namun, Lelaki pemilik jari itu belum pulang juga, sudah berkali-kali ia kirim email, pesan dan telepon tak kunjung juga dibalas. Tetapi ia tetap setia menunggu, ibunya sempat ngomel-ngomel akan kesetiaannya itu, beginilah perkataan ibunya.

“Usia wanita perawan itu seumur jagung dimata lelaki, carilah pengganti agar tidak jadi perawan tua!”

Akibat tekanan-tekanan dari ibunya sempat juga Reyshi berpikir untuk menikah dengan lelaki lain. Toh, ia juga bukan wanita yang tak menarik, banyak sekali lelaki yang mendekatinya. Hingga rela bersujud-sujud untuk mendapatkan dirinya. Tetapi, Reyshi berpikir lelaki yang seperti itu biasanya lelaki brengsek yang hanya bisa mengeluarkan kata-kata manis untuk melumpuhkan hati wanita, pada kenyataannya nol besar, dan nol itu ditulis oleh spidol mati. Uh, berat dan memusingkan ketika usia semakin bertambah, beban dan tanggung jawab semakin menumpuk dalam dada. Reyshi akan mencoba tabah, dan menyakinkan bahwa kekasihnya baik-baik saja, maka ia putuskan untuk mengirim surat.

Berhari-hari aku menunggu balasan email, pesan dan jawaban telepon dariku. Namun semuanya tak terwujud, aku percaya kamu masih hidup dan masih setia padaku. Aku tak akan berpaling darimu sampai mati, tidak akan. Jadi, janganlah takut kamu tidak mendapatkan diriku. Akan tetapi, aku seorang wanita yang pasti memiliki rasa lemah ketika orang-orang disekitarku menawarkan kebahagian nyata tanpa ada hal yang harus ditunggu. Apa yang harus aku lakukan? Teman-teman di kantor semua sudah menikah dan memiliki bayi yang lucu dan imut, naluri keibuanku muncul ketika melihat bayi-bayi itu. Aku sangat kesepian di sini. Pacarku, kekasihku, tunanganku, tolonglah beri aku seberkas cahaya terang darimu agar aku dapat memutuskan apa yang harus aku lakukan selanjutnya dalam usia yang semakin bertambah.

NB : Jari manismu sudah lama tak pernah bergerak-gerak dan loncat-loncat di tubuhku ketika aku tertidur. Jari itu mati total, hanya menggantung di leherku.


Setelah mengirim surat, Reyshi hanya melamun setiap hari—Ia sering duduk di beranda menopang dagu, menunggu surat balasan dan terus menunggu. Ia lupa akan pekerjaannya, teman-temannya dan hari-hari yang diliputi semangat baru, mimpi baru, dan harapan baru. Yang terjadi hanya menunggu dan terus menunggu dengan hati perlahan merasa hampa. Apakah kesetiaan itu menyakitkan dan apakah kasih dan sayang hanya rayuan semata? Reyshi menarik jari itu dari lehernya dan membanting ke tanah. Benar kata ibu, lelaki jika terlalu lama dilepas akan lupa jalan pulang.

Elsa tertidur dipangkuanku, pulas. Aku menarik napas panjang—mataku memandang foto pernikahan di dinding. Hari pernikahan yang tak disetujui oleh hatiku, dan di sampingnya sebuah kalung berbandul jari manis menggantung. Sekali lagi aku menarik napas panjang—kemudian kupejamkan mata. Aku masuk ke alam mimpi, di sebuah tanah lapang bekas medan perang, tak ada musuh, tak ada tumpukan mayat dan tak ada kekejaman. Hanya aku sendiri, kesepian.


(Cerpen ini terinspirasi dari cerpen 'Telinga' karya Seno Gumira)
Jari Manis
About
Jari Manis - written by Unknown , published at 20.24 . And has 0 komentar
0 komentar Add a comment
Bck
Cancel Reply
Theme designed by inaprofit.com - Ndybook - Published by O-KAO
Powered by O-KAO